Open Source Religion
Open Source Religion
Diskusi dengan thread “Ciri Khas Kristen” (di milis islamliberal-benu), terutama posting-posting dari Bung
Ioanes Rachmat yang ternyata sangat maju & berani (kupikir sebelumnya,
dilingkungan kristen di Indonesia tidak ada mahluk yag senekad Ulil), juga
posting Ulil tentang preposisi teologis yang senantiasa dalam posisi sebagai
“working hypothesis” (http://groups.yahoo.com/group/islamliberal/message/10568)
membuat saya jadi teringat pada operating system (os) Linux. Si Linus hanya
menyediakan kernel/inti dari OS tsb dengan terbuka. Memasangnya di server untuk
bebas didownload siapa saja dan siapapun bebas menambahi dengan utility-utility
lain sesuai kebutuhan masing-masing. Tanpa perlu bayar royalty ke Linus
rodhiallahu anhu (semoga allah meridhoi dia).
Sudah menjadi kebiasaan, setiap terlintas istilah atau term tertentu saya
segera sowan Mbah Google, bertanya dengan keyword “open source religion” e e
ternyata term “open source religion” ini juga sudah masuk ke catatan Mbah Wiki
(http://en.wikipedia.org/wiki/Open_source_religion) dan juga sudah ada yang
inisiatif bikin agama open source (http://www.yoism.org/). Ehm … Mbah Google
& Mbah Wiki memang cermat dan telaten, layak dijadikan tempat pertama untuk
bertanya. Boleh saja kita mengabaikan yoisme yang selintas terkesan tidak
serius, tapi saya kira tidak untuk “open source religion”.
Mbah Wiki mendefinisikan “open source religion” sebagai usaha untuk
menggunakan metodologi “open source” dalam membangun sistem kepercayaan. Sedang
metodologi “open source” sendiri, istilah yang sudah lebih dulu dipakai untuk
menunjuk pada perangkat lunak komputer yang sumber kodenya utamanya terbuka,
bebas didownload siapa saja dan siapapun boleh mempelajari, mengubah dan
menyempurnakan design awal perangkat lunak tersebut.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Open-source_software). Jadi…agama open source
senantiasa bebas untuk dipelajari, diubah (tidak mengubah kernel/intinya) dan
disempurnakan sesuai dengan kebutuhan pemakainya.
Rasa-rasanya…pendekatan terhadap agama mestinya ya seperti ini.
‘Pengguna’nya mesti bisa memilah mana kernel dan mana utility dari sebuah agama
dan kemudian agama itu senantiasa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
masing-masing pengguna (individu maupun masyarakat).
Monggo dilanjut…
